“...lagian pasti susah cari waktu luang, Nara. Sekarang kita udah punya kesibukan masing-masing. Jadwal kita pun udah gak sama.”
Nara menatap ponselnya, kosong. Satu pesan singkat dari salah satu sahabatnya, membuatnya menghela napas panjang. Tak niat untuk membalas pesan itu, tangannya pun terasa lemas.
Setelah membaca ulang pesan tersebut, yang malah semakin membuat gadis berdagu lancip itu ingin menangis, ponsel Nara bergetar kembali. 1 pesan baru. Dari salah satu sahabatnya yang lain. Sesaat ada secercah harapan bersemi.
“Gue nurut yang lain aja, deh. Kalo yang lain oke, gue mah ayok aja. Tapi liat sikon juga, sih, Ra.”
Hati Nara mencelos. Harapan yang sempat tumbuh, kini layu tak berdaya. Berserakan sembarang di tanah. Dan gadis manis itu enggan memungutnya kembali. Sambil menggigit bibir –kecewa, Nara menarikan jemari lentiknya pada keypad ponsel, mengetikkan balasan untuk kedua sahabat karibnya.
“Yaudah, dibatalin aja. Kita kencannya kalo pas libur semester aja. Toh masih 3 bulan lagi. :D”
Setelah menekan tombol send, Nara memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu berjalan gontai menuju parkiran kampus, sembari berkutat dengan pikirannya. Sirna sudah harapannya untuk memborong buku-buku –murah- di pameran buku tahun ini. Karena sahabat-sahabatnya –sepertinya- terlalu sibuk. Sebenarnya, ia dapat pergi ke pameran buku yang diadakan setiap satu tahun sekali itu sendiri. Tapi, siapa sih yang mau pergi ke tempat semacam itu sendirian?
Nara memegang dada kirinya. Sakit. Ternyata dia sangat kecewa, terhadap perubahan signifikan yang sudah mulai ditunjukkan teman-temannya semenjak mereka memasuki lingkungan baru. Tapi, sudahlah, ia tak bisa apa-apa. Karena tak bisa dipungkiri bahwa, people change.
picture source; here
picture source; here





0 komentar:
Posting Komentar
Give your words here. But, no bashing :]