Untitle [2]

Jumat, 11 Mei 2012



“Gue ketemu lagi sama dia."


Aku membesarkan volume radio kecil kumal pemberian Ibuku. Suara penyiar radio serta merta menyedot seluruh perhatianku, yang sebelumnya tengah terpusat pada tugas karya ilmiah yang –hampir saja membunuhku. Tugas ini seharusnya dikerjakan oleh kelompok. Tapi, yah, sepertinya anggota kelompokku lebih memilih menikmati romansa di Sabtu malam ini, ketimbang menyelesaikan sesuatu yang menjadi hidup dan mati mereka. Aku bisa apa? Hanya aku yang tak ada kegiatan. Hanya aku yang ‘bersantai-santai’ –setidaknya itu menurut mereka. Dan aku mengalah. Mengalah tidak selamanya buruk, kok. Hiburku dalam hati.


“Tadi, waktu gue menuju ke tempat parkir…” suara penyiar itu kembali membahana di seluruh penjuru kamarku. “…. dimana motor butut kesayangan gue bersarang, gue berpapasan sama dia! Entah apa yang di pikiran gue saat itu. Gue merhatiin dia. Cara jalan dia, cara dia senyum ke setiap temen-temennya yang nyapa, cara dia ketawa, dan one more important…..her shining eyes. Mata indahnya yang ketika ia tersenyum ataupun tertawa, akan membentuk satu garis, selalu memancarkan semangat yang –gue yakini, bakalan menular. Ini berlebihan? Enggak, kan? Atau mungkin gue yang lagi –terlalu kasmaran? Ha ha ha.”


Si penyiar radio itu tertawa renyah. Aku pun turut tersenyum, mendengar cerita dari orang yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Cerita yang menarik. Cerita tentang seseorang –laki-laki yang sedang dimabuk cinta pada pandangan pertama. Aku sangat penasaran. Dia pernah berkata bahwa dia seorang murid di salah satu sekolah negeri di Yogyakarta –satu kota denganku. Itu tambah membuatku penasaran. Siapa, sih, dia? Lalu, seperti apa, sih, gadis yang dia ceritakan itu? Oke, cukup. Aku memang selalu tak tahan jika sudah penasaran seperti ini.


“….I think that’s enough for today. I’ll tell you another story next day. Haha, nggak bakal bosen kan? Bye..” Kudengar si penyiar mengakhiri cerita dari laki-laki misterius itu. Aku menghela napas. Selalu seperti ini. Setiap aku selesai mendengar semua cerita dari laki-laki misterius di stasiun radio yang sama, dan penyiar yang sama pula, atmosfer di hatiku selalu seperti ini. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ada sebuah kupu-kupu yang melayang-layang di rongga hatiku ini. Ah, aku kira aku berlebihan. Tapi memang ini kenyataannya. Kupu-kupu itu seperti membawa setetes madu. Madu yang selalu membuatku ingin terus mencicipinya, yang ternyata adalah jawaban atas rasa penasaranku selama ini. Namun, aku tak pernah bisa merasakannya. Tak akan pernah bisa, hingga waktu sendiri yang akan menguaknya.



Photo credit: tumblr.

0 komentar:

Posting Komentar

Give your words here. But, no bashing :]

Our stories♡